10 Teknik Jitu Menentukan Target Profit – Dari Pemula Sampai Mahir!

Pernah nggak sih kamu entry trading dengan percaya diri, tapi bingung harus exit di harga berapa? Akhirnya kamu pasang TP asal-asalan—entah based on feeling atau sekedar angka cantik yang “kelihatannya bagus”. Spoiler alert: ini bukan strategi, ini gambling.

Menentukan Target Profit (TP) yang tepat adalah skill krusial yang membedakan trader profesional dengan trader amatir. TP yang asal-asalan bisa bikin kamu kehilangan profit maksimal atau malah keluar terlalu cepat padahal trend masih kuat.

Kabar baiknya, menentukan TP itu bukan sihir. Ada metode-metode konkret yang bisa kamu pelajari dan aplikasikan langsung. Di artikel ini, kita akan bahas 10 cara menentukan TP yang tepat, lengkap dengan contoh praktis. Siap upgrade skill tradingmu? Let’s go!


1. Gunakan Risk-Reward Ratio (RRR) Minimum 1:2

Risk-Reward Ratio (RRR) adalah perbandingan antara potensi kerugian (risk) dan potensi keuntungan (reward). Ini adalah fondasi paling basic yang wajib kamu pahami sebelum menentukan TP.

Rumusnya sederhana: kalau kamu pasang Stop Loss (SL) di -2%, maka TP-mu minimal harus +4% untuk mendapatkan RRR 1:2. Artinya, setiap 1 dollar yang kamu risikokan, kamu harus menargetkan minimal 2 dollar profit.

Kenapa 1:2? Karena dengan RRR ini, kamu tetap bisa profit meskipun win rate-mu cuma 50%. Bayangkan dari 10 trade, 5 loss dan 5 win. Kalau RRR-mu 1:2, total profit tetap lebih besar dari total loss. Ini adalah matematika sederhana yang bikin trading jadi sustainable dalam jangka panjang.

Contoh praktis: kamu beli saham di harga Rp1.000 dengan SL di Rp950 (risk Rp50). Maka TP minimum-mu harus di Rp1.100 (reward Rp100). Sederhana kan?


2. Manfaatkan Support dan Resistance

Support dan resistance adalah level-level psikologis di chart di mana harga cenderung berhenti atau berbalik arah. Ini adalah salah satu metode paling populer dan reliable untuk menentukan TP.

Logikanya simpel: resistance adalah area di mana banyak seller menunggu, jadi kemungkinan besar harga akan kesulitan menembus area tersebut. Jadi, kamu bisa pasang TP sedikit di bawah resistance terdekat untuk memaksimalkan peluang TP tereksekusi.

Sebaliknya, kalau kamu trading short (jual), pasang TP sedikit di atas support terdekat. Jangan pasang TP tepat di level resistance/support, karena harga sering kali nggak menyentuh level tersebut secara presisi—beri jarak buffer sekitar 0.5-1%.

Contoh: Bitcoin sedang naik dari $35,000 dan ada resistance kuat di $38,000 berdasarkan history chart. Kamu bisa pasang TP di $37,700 – $37,800 untuk antisipasi rejection di resistance tersebut. Dengan begitu, profit kamu lebih aman.


3. Pakai Fibonacci Retracement dan Extension

Fibonacci Retracement adalah tool analisis teknikal yang menggunakan rasio matematika untuk memprediksi level-level penting di chart. Level-level Fibonacci yang paling sering dipakai adalah 23.6%, 38.2%, 50%, 61.8%, dan 100%.

Untuk menentukan TP, kamu bisa gunakan Fibonacci Extension dengan level 127.2%, 161.8%, atau bahkan 261.8%. Level-level ini menunjukkan seberapa jauh harga bisa melanjutkan trend setelah koreksi.

Cara pakainya: tarik Fibonacci dari swing low ke swing high (untuk uptrend) atau sebaliknya (untuk downtrend). Level extension akan otomatis muncul di chart, dan itulah kandidat TP-mu.

Misalnya, kamu trading EUR/USD yang sedang uptrend. Setelah tarik Fibo dari low di 1.0800 ke high di 1.1000, extension 161.8% muncul di level 1.1120. Nah, 1.1120 ini bisa jadi TP target kamu. Metode ini cocok banget untuk swing trading atau position trading.


4. Tentukan TP Berdasarkan Average True Range (ATR)

Average True Range (ATR) adalah indikator yang mengukur volatilitas pasar—seberapa besar pergerakan harga rata-rata dalam periode tertentu. ATR sangat berguna untuk menentukan TP yang realistis sesuai kondisi market.

Logikanya: kalau ATR-nya besar (market volatile), kamu bisa pasang TP lebih jauh karena harga punya potensi bergerak lebih besar. Sebaliknya, kalau ATR kecil (market sideways), TP harus lebih dekat karena harga bergerak lambat.

Cara praktisnya: kalau ATR harian suatu pair forex adalah 50 pips, maka TP rasional kamu bisa 1x ATR (50 pips) untuk target konservatif, atau 1.5-2x ATR (75-100 pips) untuk target agresif.

Contoh: kamu trading GBP/USD dengan ATR 80 pips. Kamu entry di 1.2500 untuk long position. TP konservatif bisa di 1.2580 (80 pips), atau TP agresif di 1.2660 (160 pips). ATR membantumu menghindari TP yang terlalu ambitious atau terlalu konservatif.


5. Gunakan Pola Chart Pattern

Chart pattern seperti Triangle, Head and Shoulders, Double Top/Bottom, atau Flag Pattern punya target profit yang bisa dihitung secara matematis. Ini adalah cara yang sangat objektif untuk menentukan TP.

Misalnya, pada pola Triangle, target profit dihitung dari tinggi triangle (base) yang kemudian diproyeksikan dari breakout point. Kalau base-nya 100 pips, maka TP kamu juga sekitar 100 pips dari breakout.

Untuk pola Head and Shoulders, TP dihitung dari jarak antara head ke neckline, lalu proyeksikan jarak yang sama dari breakout neckline. Ini bukan tebak-tebakan, tapi based on price action history.

Contoh konkret: kamu menemukan pola Ascending Triangle pada saham BBRI dengan base setinggi Rp200. Breakout terjadi di Rp5.000. Maka, TP target kamu adalah Rp5.000 + Rp200 = Rp5.200. Simple, terukur, dan objektif.


6. Pakai Moving Average sebagai Dynamic TP

Moving Average (MA) seperti MA 50, MA 100, atau MA 200 bisa berfungsi sebagai dynamic support/resistance yang bergerak mengikuti harga. Ini cocok banget untuk strategi trend following.

Cara kerjanya: kalau kamu trading dalam uptrend, kamu bisa pasang TP di area di mana harga kemungkinan besar akan mengalami resistance—misalnya di dekat MA 200 atau MA yang periode lebih besar.

Keuntungan pakai MA adalah fleksibel—TP-mu “bergerak” sesuai trend, bukan statis di satu harga. Ini cocok untuk kondisi market yang trending kuat dan kamu pengen maximize profit.

Contoh: kamu entry long pada crypto XYZ di $100 saat harga bounce dari MA 50. Kamu lihat MA 200 sedang berada di $130. Kamu bisa set TP di $128-$129 (sedikit di bawah MA 200) untuk antisipasi rejection. Dengan begitu, kamu riding the trend sambil tetap realistis dengan TP.


7. Hitung TP Berdasarkan Persentase Equity

Metode ini lebih fokus ke money management daripada analisis teknikal. Kamu menentukan TP berdasarkan berapa persen profit dari total modal atau equity yang ingin kamu capai per trade.

Misalnya, kamu punya modal $10,000 dan ingin profit 2% per trade ($200). Kalau kamu entry 1 lot EUR/USD, tinggal hitung: berapa pip yang kamu butuhkan untuk mendapatkan $200? Kalau 1 pip = $10, berarti kamu butuh 20 pips untuk TP.

Metode ini memastikan pertumbuhan equity kamu konsisten dan terukur. Kamu nggak terjebak pada angka-angka cantik di chart, tapi fokus pada pertumbuhan akun secara keseluruhan.

Cocok banget buat kamu yang punya target bulanan—misalnya profit 10% per bulan. Tinggal bagi target bulanan dengan jumlah trade yang kamu rencanakan, lalu hitung TP per trade-nya. Ini cara trader profesional mengelola portfolio.


8. Gunakan Timeframe yang Lebih Besar untuk Konfirmasi

Multi-timeframe analysis adalah teknik di mana kamu analisis chart di beberapa timeframe sekaligus—misalnya H1, H4, dan Daily. Ini penting untuk menentukan TP yang lebih akurat.

Cara kerjanya: kamu entry di timeframe kecil (misal H1), tapi kamu tentukan TP berdasarkan resistance/support di timeframe besar (misal Daily atau H4). Kenapa? Karena level di timeframe besar lebih kuat dan lebih respected oleh market.

Misalnya, kamu entry long di H1 karena ada sinyal bullish. Tapi sebelum pasang TP, kamu cek dulu chart Daily. Ternyata ada resistance kuat di level tertentu. Nah, TP kamu sebaiknya di bawah resistance Daily tersebut, bukan asal pasang di timeframe H1 yang mungkin kurang signifikan.

Dengan multi-timeframe, kamu bisa avoid TP yang terlalu ambitious dan pastikan TP kamu align dengan struktur market yang lebih besar. Ini bikin win rate naik dan profit lebih konsisten.


9. Manfaatkan Price Action dan Candlestick Pattern

Price action adalah seni membaca pergerakan harga tanpa indikator—cukup dari candle dan struktur chart. Ada beberapa candlestick pattern yang bisa jadi sinyal untuk TP, seperti Doji, Shooting Star, atau Engulfing.

Misalnya, kamu sedang profit dan tiba-tiba muncul candlestick Shooting Star di resistance—ini sinyal bearish reversal. Daripada tunggu TP jauh, lebih baik close position segera atau pindahkan TP lebih dekat.

Atau, kamu bisa pasang TP di area di mana biasanya muncul rejection candle berdasarkan history. Ini lebih dinamis dan adaptif dibanding TP statis yang nggak mempertimbangkan kondisi real-time market.

Contoh: kamu trading gold dan lagi profit. Tiba-tiba di level $2,050 muncul Doji dengan volume tinggi (tanda indecision). Kamu bisa segera close atau set trailing stop di bawah Doji tersebut. Price action memberimu informasi real-time yang kadang lebih akurat dari indikator.


10. Terapkan Trailing Stop untuk Maksimalkan Profit

Trailing Stop adalah strategi di mana SL kamu “mengikuti” harga saat profit bertambah, sehingga kamu bisa lock-in profit sambil tetap memberi ruang untuk harga lanjut naik.

Cara kerjanya: misalnya kamu entry long di $100 dengan SL awal di $98. Saat harga naik ke $105, kamu naikkan SL ke $103 (trailing 2 point). Kalau harga terus naik ke $110, SL naik lagi ke $108. Dengan begitu, profit minimum kamu sudah aman, tapi kamu masih bisa dapat lebih kalau trend lanjut.

Trailing Stop sebenarnya bukan TP dalam arti tradisional, tapi ini adalah metode dynamic exit yang sangat powerful untuk maximize profit di trending market. Kamu nggak perlu set TP fix—biar market yang tentukan seberapa jauh dia bisa jalan.

Cocok banget untuk swing trading atau saat kamu catch trend besar. Daripada exit terlalu cepat di TP yang terbatas, trailing stop membiarkan kamu ride the wave selama mungkin. Ini yang bikin trader pro bisa dapet profit ratusan pip atau puluhan persen dalam satu trade.


Kesimpulan

Menentukan Target Profit (TP) yang tepat bukan soal keberuntungan atau feeling, tapi soal metode, analisis, dan disiplin. Dari 10 cara di atas, kamu bisa kombinasikan beberapa metode sekaligus untuk hasil yang lebih optimal.

Yang paling penting: TP harus masuk akal, realistis, dan sesuai dengan analisis kamu. Jangan pasang TP cuma karena “pengen profit segini” tanpa dasar yang jelas. Gunakan tools seperti RRR, support/resistance, Fibonacci, ATR, atau price action untuk membuat keputusan yang objektif.

Ingat, trading adalah marathon, bukan sprint. TP yang konsisten dan terukur akan membawa equity kamu tumbuh stabil dalam jangka panjang. Jadi, mulai sekarang, biasakan untuk selalu tentukan TP dengan metode yang jelas—bukan asal-asalan.

Metode mana yang paling sering kamu pakai untuk menentukan TP? Share di kolom komentar! Dan kalau artikel ini bermanfaat, jangan lupa bagikan ke sesama trader. Happy trading and stay profitable!

Leave a Comment